Tuesday, May 17, 2011
Monday, May 9, 2011
beginilah akhirnya...
#1
kemerin aku dapat edelweiss...
simbol endless love yang kuberitakan ke kamu dulu..
seneng banget akhirnya aku bisa lihat dia didepan mata..
#2
gue seneng...
tenang aja...
gue seneng...
mungkin begitu lebih baik...
congratulation...
PLP
#3
............................
kemerin aku dapat edelweiss...
simbol endless love yang kuberitakan ke kamu dulu..
seneng banget akhirnya aku bisa lihat dia didepan mata..
#2
gue seneng...
tenang aja...
gue seneng...
mungkin begitu lebih baik...
congratulation...
PLP
#3
............................
Thursday, May 5, 2011
Catatan Calon Pendidik
Aku bangga menjadi guru! Ingin sekali suatu saat nanti aku bisa meneriakkan kalimat itu. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan. Berdiri di depan kelas membelakangi papan tulis, menghadap ke wajah peserta didik, menyampaikan sesuatu yang diharapkan kelak akan bermanfaat untuk kehidupan mereka. Aku bangga menjadi guru. Sekali lagi aku sangat menyukai kata-kata itu, sama sukanya ketika aku membayangkan akan ada tangan-tangan yang teracung ke atas berebut ingin bertanya hal-hal misterius yang ingin mereka ketahui. Aku memang belum menyandang gelar sarjana, tapi bukankah mengajar dan mendidik itu adalah tugas untuk semua manusia tanpa harus mendapatkan gelar sarjana terlebih dahulu? Iya ‘kan? Bukankah tugas manusia itu adalah saling memberitahu, saling membantu dan saling mencerahkan? Alangkah indahnya jika semua orang di dunia ini bisa menjadi guru. Menjadi guru untuk dirinya sendiri dan guru untuk orang lain yang segala tindakan serta pengetahuannya bisa menjadi teladan untuk semua orang. Aku rasa tidak ada ketentuan atau standar khusus untuk menjadi seorang guru, termasuk batasan usia dan lain sebagainya. Pernahkah terlintas di ingatan kita ketika kita mendapat pelajaran penting dari seorang anak kecil? Atau pelajaran mulia dari seorang anak jalanan? Atau bahkan menerima sebuah kebenaran dari seorang yang dilahirkan tak sempurna? Tidak memungkinkan justru kadang pada orang yang kita pandang “kurang” lah kita harus banyak belajar. Yakinlah, semua orang bisa menjadi guru. Guru kehidupan, lebih tepatnya. Dan aku berkeinginan untuk menjadi guru kehidupan itu. yang tak hanya bisa menyampaikan sebuah teori, tapi juga menunjukkan aksi dengan berimplementasi. Apakah Anda juga berkeinginan sama denganku?
Sunday, May 1, 2011
Catatan Awal Mei 2011
Malam merasukiku...
Berpikir bahwa nyata lebih baik daripada maya..
Buat saat ini, cukup itu saja.
Titik
Berpikir bahwa nyata lebih baik daripada maya..
Buat saat ini, cukup itu saja.
Titik
Saturday, April 30, 2011
PEMARKAH
[Kali ini bukan tentang dan untuk siapa-siapa, cuma buat diri sendiri...]
Malam baru saja lewat
Sedepa pergi jarak menuju pagi
Tanpa sempat terucap selamat tidur kepada peri mimpi
Hanya detik jam dinding bundar mengabarkan
Soal pesan-pesan yang sepi
Juga bincang kesendirian yang hanya di hati
Mengalun lirih diayun simfoni
Mungkin malam sudah jauh-jauh waktu menandai
Pecahnya bulan suatu hari nanti...
--dini hari ketika nonton sinema Mahasmara sendirian, 2011
Malam baru saja lewat
Sedepa pergi jarak menuju pagi
Tanpa sempat terucap selamat tidur kepada peri mimpi
Hanya detik jam dinding bundar mengabarkan
Soal pesan-pesan yang sepi
Juga bincang kesendirian yang hanya di hati
Mengalun lirih diayun simfoni
Mungkin malam sudah jauh-jauh waktu menandai
Pecahnya bulan suatu hari nanti...
--dini hari ketika nonton sinema Mahasmara sendirian, 2011
Maknai Saja
{untuk kawanku,sem0ga terbaca olehnya..}
...
Dan rentet pertanyaan masih menggantung di udara
Menanti jawab yang entah bila tiba
...
Sedangkan ia sibuk menata dunianya
Sejenak lupakan satu nama
...
Mengasingkan resah dalam pasrahke ruang antah berantah
Mengonggokkan kelu pada pilu
Menangisi hilangnya rindu
Hapuslah masygul musnahkan sedu
...
Masih tentang erti tiga titik yang kita bincangkan tempo lalu
Adakah kau sudah tahu tafsirnya?
...
*an evening with a cup of tea, April 2011
...
Dan rentet pertanyaan masih menggantung di udara
Menanti jawab yang entah bila tiba
...
Sedangkan ia sibuk menata dunianya
Sejenak lupakan satu nama
...
Mengasingkan resah dalam pasrahke ruang antah berantah
Mengonggokkan kelu pada pilu
Menangisi hilangnya rindu
Hapuslah masygul musnahkan sedu
...
Masih tentang erti tiga titik yang kita bincangkan tempo lalu
Adakah kau sudah tahu tafsirnya?
...
*an evening with a cup of tea, April 2011
Monday, April 25, 2011
Puisi Bumi yang Membumi
Assalamu’alaikum wr wb
Alhamdulillah, akhirnya saat yang dinantikan telah sampai pada waktunya. Sebuah niat sederhana pada awalnya untuk menggelar event kecil-kecilan, disambut dengan sangat antusias oleh teman-teman.
Sebelumnya, saya mengucapkan permohonan maaf dengan banyaknya email naskah untuk diikutsertakan di LMP Jelang Hari Bumi namun tidak saya masukkan diupdate final peserta LMP. Karena bagaimanapun, saya berusaha untuk menghargai para peserta yang telah mengirimkan karyanya tepat waktu.
Hadiah yang tidak seberapa dan sangat kecil nominalnya namun antusias para peserta yang luar biasa cukup menjadi bukti bagi kita semua, karena ternyata kita sebagai manusia masih mempunyai kepedulian dengan bumi kita. Sungguh terharu karena lebih dari 500 penyair telah rela menyumbangkan karyanya untuk diikut sertakan dalam lomba ini. Saya yakin ini adalah bentuk rasa ingin saling berbagi dengan kondisi bumi dan lingkungan kita hari ini yang tak lagi dihargai oleh manusia.
Terima kasih saya sampaikan kepada seluruh peserta baik yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar, para penyebar info lomba ini, flp lampung(atas sumbangan buku antologi puisinya sebagai hadiah event ini), juga dewan juri yang sudah saya repotkan untuk memilih para nominator untuk menjadi calon kontributor di antologi puisi ini.
Mohon maaf atas segala yang tidak berkenan.
Salam
Tri Lego
Alhamdulillah, akhirnya saat yang dinantikan telah sampai pada waktunya. Sebuah niat sederhana pada awalnya untuk menggelar event kecil-kecilan, disambut dengan sangat antusias oleh teman-teman.
Sebelumnya, saya mengucapkan permohonan maaf dengan banyaknya email naskah untuk diikutsertakan di LMP Jelang Hari Bumi namun tidak saya masukkan diupdate final peserta LMP. Karena bagaimanapun, saya berusaha untuk menghargai para peserta yang telah mengirimkan karyanya tepat waktu.
Hadiah yang tidak seberapa dan sangat kecil nominalnya namun antusias para peserta yang luar biasa cukup menjadi bukti bagi kita semua, karena ternyata kita sebagai manusia masih mempunyai kepedulian dengan bumi kita. Sungguh terharu karena lebih dari 500 penyair telah rela menyumbangkan karyanya untuk diikut sertakan dalam lomba ini. Saya yakin ini adalah bentuk rasa ingin saling berbagi dengan kondisi bumi dan lingkungan kita hari ini yang tak lagi dihargai oleh manusia.
Terima kasih saya sampaikan kepada seluruh peserta baik yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar, para penyebar info lomba ini, flp lampung(atas sumbangan buku antologi puisinya sebagai hadiah event ini), juga dewan juri yang sudah saya repotkan untuk memilih para nominator untuk menjadi calon kontributor di antologi puisi ini.
Mohon maaf atas segala yang tidak berkenan.
Salam
Tri Lego
Subscribe to:
Posts (Atom)
